Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 April 2013

Nasehat Ulama

Nasehat Asy-Syaikh Muhammad Terkait Khilaf Dan Perbaikan Kalbu


بسم الله الرحمن الرحيم


Berikut adalah cuplikan nasehat dari Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam -حفظه الله- dalam pelajaran Tafsir dan Shahih Muslim, ketika membahas ayat dalam surat Yunus ayat 93;

وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّى جَاءَهُمُ الْعِلْمُ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Isra’il di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabb-mu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.”
Beliau berkata: Bani Isra’il telah menceburkan diri-diri mereka dalam perselisihan yang berkepanjangan. Sebenarnya mereka telah diberi kenikmatan yang luas oleh Allah تعالى dan diberi keluasan serta kelapangan hidup berupa rizki yang baik, namun karena kecongkakan mereka, mereka lebih memilih untuk membangkang dan berselisih.
Kita mengambil pelajaran dari firman Allah تعالى ini: Sesungguhnya Rabb-mu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu, suatu pelajaran yang sangat berharga, yaitu perselisihan Bani Isra’il akan tetap berlangsung sampai hari kiamat dan akan diperkarakan di hadapan Allah تعالى, dan Allah تعالى yang memberikan pemutusan perkara.
Terkait dengan kita umat islam, semua perselisihan yang terjadi dalam umat ini kalau tidak diselesaikan dengan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah secara lahir dan batin maka juga akan terus terbawa sampai hari kiamat, dan akan diselesaikan di hadapan Allah تعالى.
Akankah jejak Bani Isra’il ini diikuti oleh sebagian kaum muslimin?
Dalam pelajaran Shahih Muslim ketika beliau membahas hadits berikut; Dari Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:

لما نزلت هذه الآية: {يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي} جلس ثابت بن قيس في بيته فسأل النبي صلى الله عليه وسلم سعد بن معاذ فقال … فقال ثابت أنزلت هذه الآية ولقد علمتم أني من أرفعكم صوتا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فأنا من أهل النار فذكر ذلك سعد للنبي صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بل هو من أهل الجنة

“Ketika turunnya ayat ini : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi”, Tsabit bin Qais duduk diam di rumahnya. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya kepada Sa’ad bin Mu’adz (tentangnya), … Sa’ad mengabarkan bahwa Tsabit berkata: telah diturunkan ayat ini, dan kalian tahu bahwa aku termasuk orang yang bersuara tinggi diantara kalian terhadap Rasulullah, maka aku adalah penghuni neraka. Maka Sa’ad menyebutkan hal itu kepada Nabi, maka beliau bersabda: “Bahkan dia (Tsabit) adalah penghuni surga.”
Pelajaran yang diambil sebagaimana disampaikan oleh Asy-Syaikh, para shahabat sangat bersungguh untuk memahami dan mengamalkan suatu ayat Al-Qur’an. Selain itu, para shahabat ketika turun suatu ayat maka ayat itu dikenakan pada diri mereka sendiri, untuk mengkoreksi diri. Mereka tidak sibuk untuk mengenakan ayat tersebut pada orang lain, masing-masing orang sibuk mengoreksi diri dengan ayat yang turun tersebut. Tsabit bin Qais adalah salah satu contohnya.
Padahal ayat ini sebenarnya turun terkait keributan yang terjadi antara Abu Bakr dan ‘Umar dan mereka mengangkat suara di hadapan Rasul.
Inilah sebab terbesar bagaimana seseorang bisa memperbaiki kalbunya, ketika datang ayat maka mengkoreksi dirinya dengan ayat itu, ketika datang hadits maka dia mengkoreksi dirinya dengan hadits itu. Dan buahnya seperti yang telah dipetik Tsabit bin Qais, akhir hayatnya ditutup dengan syahid, dan diberitakan oleh Rasul bahwa dia adalah penghuni surga.
Demikian cuplikan nasehat dan faedah dari beliau (Asy-Syaikh Muhammad) semoga memberikan bimbingan kepada kita semua untuk mulai berbenah di dunia ini dan mempersiapkan bekal yang sebaik mungkin untuk menghadap Allah تعالى.
Wallahu a’lam.

Jumat, 01 Maret 2013

Untaian Nasehat Persahabatan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ditulis oleh : al-Ustadz Abul Hasan
Cikarang – Bekasi

ADAB-ADAB PERSAHABATAN
1. Akhlaq yang mulia  ( akhlaaqul kariimah ).
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“ dan sesungguhnya engkau benar-benar diatas akhlaq dan budi pekerti yang mulia “                 
disebutkan oleh ibnu rojab dalam jamii’nya termasuk dari akhlaq yang mulia adalah : “  budi pekerti yang mulia  , sifat bijaksana dalam keputusan , sifat malu , rendah hati , menahan dari mengganggu orang lain dengan ucapan atau perbuatan , memaafkan kesalahan , menahan amarah , berseri didepan teman , bersabar dengan gangguan teman .

Ditanyakan  pada  Ibnul Mubaarok : ” Ringkaskan untuk kami bagaimanakah akhlaq yag mulia itu : tinggalkanlah sifat amarah “.

Berkata   Ja’far bin Muhammad : ” Kemarahan itu kunci dari segala keburukan “.

Berakhlaq dengan akhlaq yang mulia tidak hanya teruntuk sesama muslim akan tetapi juga untuk semua manusia dan juga untuk binatang , untuk sesama muslim karena mereka adalah saudara kita yang sebenarnya didunia dan akhirat nanti , untuk orang kafir sebagai bentuk da’wah kepada mereka dan menunjukkan kemuliaan agam islam pada mereka .
قالوا : يا رسول الله ما خير ما أعطي الإنسان ؟ قال : ” الخلق الحسن ” رواه البيهقي في ” شعب الإيمان ”
Ditanyakan kepada beliau : ” Ya Rosululloh ! Apakah pemberian yang terbaik yang diberikan kepada seseorang ? beliau menjawab : ” Akhlaq yang mulia ”
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” بعثت لأتمم حسن الأخلاق ” رواه الموطأ ”
Beliau juga bersabda : ” Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia “.

2. Memperbaiki dan menutupi kejelekan serta aib  saudaranya .
Jangan menghina cacat yg ada pada org lain , Jika cacat tersebut terdapat dalam akhlak dan agamanya, bantulah ia untuk mmperbaikinya.

Jika cacatnya pada fisiknya, beradablah kepada yg telah mnciptakannya .
begitulah seharusnya kita bersikap pada makhluk ciptaan alloh karena dengan begitu kita akan menerima kekurangan saudara kita sebagaimana mereka bisa menerima kekurangan diri kita , dimana tiada makhluk yang sempurna hanya dialah yang maha sempurna  , adapun kekurangan itu disempurnakan dan ditutupi , bukan dihina dan disebarkan .

siapakah yang sempurna…? takkan engkau dapati manusia yang sempurna sisi sempurna disisi yang lain tiada sempurna . apabila engkau pandang manusia dari segala sisi engkau akan mendapati kesempurnaan , mudah dalam memaafkan setiap kesalahan , mudah dalam bersikap tawadhu’ dan  yang lainnya .

Apabila engkau pandang manusia dari satu sisis engkau dapati semuanya akan kurang dan begitu sebaliknya apabila engkau pandang dari sisi yang lain engkau akan dapati semua sempurna sebagaimana ungkapan seorang penyair :
فعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا
” pandangan keridhoan akan menampakkan keburukan sebagai kebaikan…
akan tetapi pandangn kebencian menampakkan semua kejelekan…..

3.memaafkan kesalahan teman .

 قال الفضيل بن عياض: (الفتوة الصفح عن عثرات الإخوان 

berkata fudhoil bin 'iyaadh : " kepahlawanan itu adalah memaafkan ketergelinciran saudaranya ".
hal ini harus disadari bagi siapapun bahwa manusia tidak ma'shum dari kesalahan dan kekhilafan dalam hidupnya al ini akan membawa kepada sifat ma'lum dari seseorang ketika saudaranya terjatuh pada kesalahan .
demikian juga sifat manusia yang ingin dimaafkan ketika berbuat salah maka iinipun diharapkan pada kita dan saudara kita untuk saling memaafkan .

وقال ابن الأعرابي: (تناسى مساوئ الإخوان يدم لك ودهم).

berkata ibnul 'aroby : " berusaha melupakan kesalahan2 teman akan semakin berkesinambungan rasa cinta mereka terhadapmu ".

 قال ذو النون لمن أوصاه: (عليك بصحبة من تسلم منه في ظاهرك، وتعينك رؤيته على الخير، ويذكرك مولاك).

berkata dhun nun kepada orang yang diberi washiatnya : " carilah teman seseorang yang selamat dhohirmu darinya , membantumu untuk meihat sebuah kebenaran , dan mengingatkan robbmu ".
dan bersemangat untuk berteman dengan orang -orang yang baik . menjaga diri untuk  tetap berada diatas kebaikan dengan teman-teman yang mulia . 
 قال الله تعالى : ( فاصفح الصفح الجميل (1)
artinya : " maka maafkanlah dengan maaf yang indah " .

disebutkan dalam tafsir maksud dari maaf yang indah adalah : " memaafkan tanpa mencela ,tidak disertai cacian , dan makian .

4. berusaha menyesuaikan dengan teman dan menutup pintu perselisihan pada perkara yang bukan ma'shiat.

karena persahabatan itu adalah hubungan antar sesama yang menuntut untuk saling memahami satu dengan yang lainnya , dan bukan memaksakan kehendak diri pada orang lain,memaksakan kehendak dan idak peduli dengan pendapat dan saran dari teman hal itulah yang banyak mengakibatkan banyak terjadi antar dua orang yang bershahabat berselisih dan akhirnya menjadi bermusuhan , kurangnya saling memahami dan mencocoki teman pada perkara yang seharusnya saling mengalah dan toleran akan mengakibatkan buruknya hubungan mereka .
 قال أبو عثمان: (موافقة الإخوان خير من الشفقة عليهم).
berkata abu utsman : " mencocoki teman lebih baik dari sekedar menyayangi mereka ".